Dirut Antara Tegaskan Urgensi Akurasi Informasi di Era Disrupsi Digital, Media Arus Utama sebagai Pilar Kebangsaan
Bandung, 8 Mei 2026 – Di tengah derasnya arus informasi digital dan gelombang media sosial yang kian tak terkendali, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Benny Siga Butarbutar, kembali menegaskan urgensi menjaga akurasi dan kualitas informasi publik. Pernyataan ini disampaikan Benny dalam kapasitasnya sebagai pembicara utama pada Forum Portofolio PLN Indonesia Power Renewables (PLN IPRen) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Bandung, Kamis (7/5/2026). Dalam forum yang berfokus pada manajemen pemangku kebijakan (stakeholder management) tersebut, Benny menyoroti tantangan yang dihadapi para pemangku kepentingan di era digital, yang tidak hanya bersumber dari dalam negeri tetapi juga dari kontestasi global.
"Pada era digital saat ini, para pemangku kepentingan mendapatkan tantangan dan tekanan bukan hanya dari dalam tapi juga dari luar negeri sebagai imbas dari kontestasi global, sehingga kebutuhan akan pengaruh, semakin besar," ujar Benny Siga Butarbutar di hadapan ratusan peserta forum yang terdiri dari jajaran direksi PLN IPRen, akademisi, serta praktisi komunikasi. Ia menambahkan bahwa di tengah laju informasi yang begitu cepat, peran media arus utama menjadi semakin krusial sebagai benteng pertahanan terhadap disinformasi dan misinformasi yang dapat mengancam stabilitas sosial dan nasional.
Fakta Utama: Media Arus Utama sebagai Filter Informasi Berkualitas
Benny Siga Butarbutar menekankan bahwa media arus utama, termasuk LKBN Antara, memegang peranan vital sebagai garda terdepan dalam memastikan masyarakat menerima informasi yang akurat, terverifikasi, dan relevan. Dalam konteks global yang semakin terhubung, disinformasi dan hoaks dapat dengan mudah menyebar dan menimbulkan dampak negatif yang luas, mulai dari polarisasi sosial, keresahan publik, hingga destabilisasi keamanan.
"Jika media kolaps, semua (negara) akan kolaps, karena kita kehilangan informasi berkualitas, karena media berarus utama terikat untuk menjaga kualitasnya (sebagai clearing house) dengan berbagai aturan yang mengaturnya," tegas Benny. Pernyataan ini menyiratkan bahwa media arus utama memiliki mekanisme internal yang ketat dalam proses produksi berita, mulai dari verifikasi fakta, pengecekan sumber, hingga proses editorial yang berlapis. Hal ini berbeda dengan media sosial yang seringkali hanya mengandalkan kecepatan penyebaran tanpa proses validasi yang memadai.
Peran sebagai "clearing house" atau penyaring informasi ini menjadi semakin penting mengingat masyarakat kini memiliki akses terhadap begitu banyak sumber informasi, namun tidak semuanya dapat dipercaya. Media arus utama, dengan mandatnya untuk menyajikan berita yang berimbang dan akurat, bertugas untuk memilah informasi yang benar dari yang salah, serta menyajikannya secara objektif kepada publik.
Kronologi Kejadian: Konteks Forum PLN IPRen dan Pentingnya Stakeholder Management
Kegiatan Forum Portofolio PLN Indonesia Power Renewables (PLN IPRen) Tahun 2026 di Bandung menjadi momen strategis bagi Direktur Utama LKBN Antara untuk menyampaikan pandangannya mengenai peran media di era digital. Forum ini sendiri bertujuan untuk mengevaluasi dan merencanakan strategi portofolio bisnis energi terbarukan PT PLN (Persero) melalui anak usahanya, PLN IPRen. Dalam konteks ini, manajemen pemangku kepentingan (stakeholder management) menjadi aspek krusial.
Benny Siga Butarbutar, yang ditunjuk sebagai pembicara pada sesi mengenai manajemen pemangku kebijakan, mengaitkan pentingnya informasi akurat dengan upaya pengelolaan hubungan baik dengan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan energi terbarukan. Di era digital, persepsi publik terhadap perusahaan dapat dibentuk secara cepat melalui pemberitaan dan diskusi di ruang digital. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa informasi yang beredar mengenai mereka adalah akurat dan dikelola dengan baik.
"Di era digital saat ini, para pemangku kepentingan mendapatkan tantangan dan tekanan bukan hanya dari dalam tapi juga dari luar negeri sebagai imbas dari kontestasi global, sehingga kebutuhan akan pengaruh, semakin besar," papar Benny. Ia menggarisbawahi bahwa baik perusahaan seperti PLN IPRen maupun lembaga media seperti Antara, sama-sama beroperasi dalam lanskap informasi yang kompleks. Keduanya perlu memahami dinamika ini dan bagaimana mengelola informasi serta persepsi publik secara efektif.
Kunjungan singkat Benny Siga Butarbutar ke Kantor Biro Antara Jawa Barat di Jalan Braga 25 setelah forum tersebut juga menunjukkan komitmennya untuk terus memperkuat jaringan dan memberikan arahan kepada jajaran redaksi di daerah. Dalam pertemuan tersebut, Benny memberikan beberapa arahan strategis dalam menyikapi berbagai isu terkini, baik yang berskala nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan peran media arus utama di tingkat daerah juga menjadi prioritas, mengingat isu-isu lokal dapat memiliki dampak yang signifikan.
Data Pendukung: Keunggulan Jurnalisme Media Arus Utama
Benny Siga Butarbutar merinci keunggulan inheren jurnalisme yang dijalankan oleh media arus utama dalam menghasilkan informasi berkualitas. Ia menekankan dua pilar utama yang menopang objektivitas media: fakta dan relevansi, serta imparsialitas dan cover both sides.
1. Fakta dan Relevansi: Jurnalisme yang baik berakar pada fakta yang dapat diverifikasi. Media arus utama memiliki prosedur ketat untuk mengumpulkan bukti, mewawancarai narasumber yang kredibel, dan memeriksa silang informasi. Relevansi di sini berarti bahwa informasi yang disajikan harus penting dan berarti bagi audiens, bukan sekadar gosip atau hal yang tidak substansial. Dalam konteks berita bisnis seperti yang dibahas dalam forum PLN IPRen, fakta dan relevansi mencakup data kinerja, kebijakan strategis, dampak proyek, dan proyeksi masa depan yang akurat.
2. Imparsialitas dan Cover Both Sides: Imparsialitas berarti media berusaha untuk tidak memihak atau memiliki prasangka terhadap subjek pemberitaan. Ini bukan berarti media tidak memiliki pandangan, tetapi dalam penyajian berita, upaya dilakukan untuk menyajikan informasi secara adil. Konsep cover both sides menekankan pentingnya memberikan ruang bagi berbagai perspektif atau pihak yang terlibat dalam suatu isu. Dalam kasus PLN IPRen, misalnya, pemberitaan mengenai proyek energi terbarukan harus mencakup pandangan perusahaan, regulator, masyarakat, serta potensi tantangan dan kontroversi yang mungkin timbul.
"Jurnalisme media itu memiliki sebuah keunggulan dalam melakukan verifikasi terhadap objektifitas, di mana objektifitas media itu berpilar pada dua hal yaitu fakta dan relevansi, serta impartialitas dan cover both side-nya. Jadi ini kalau dijaga, maka dia menjadi sebuah informasi yang berkualitas," jelas Benny.

Di sisi lain, media sosial, meskipun memiliki kelebihan dalam kecepatan dan jangkauan, seringkali rentan terhadap penyebaran informasi yang belum terverifikasi, bias, atau bahkan sengaja dibuat untuk menyesatkan. Tanpa filter redaksi yang ketat, informasi di media sosial dapat dengan mudah menimbulkan kesalahpahaman, kepanikan, atau polarisasi.
Benny melihat bahwa di masa depan, media sosial dan media massa konvensional akan berperan saling melengkapi. Media sosial akan terus unggul dalam kecepatan dan penyebaran informasi secara luas, sementara media massa konvensional akan menyediakan informasi yang terverifikasi, mendalam, dan berkualitas. "Jurnalisme media itu memiliki sebuah keunggulan dalam melakukan verifikasi terhadap objektifitas," tambahnya, menegaskan peran pembeda yang krusial.
Tanggapan Pihak Terkait/Resmi: Penguatan Peran Media dalam Ekosistem Informasi
Pernyataan Direktur Utama LKBN Antara ini disambut baik oleh para praktisi komunikasi dan pemangku kepentingan di berbagai sektor. Dalam konteks forum PLN IPRen, upaya menjaga akurasi informasi sangat relevan dengan kebutuhan perusahaan untuk membangun citra positif dan kredibilitas di mata publik, investor, dan pemerintah.
Pihak PLN Indonesia Power Renewables (PLN IPRen) sendiri, melalui forum tersebut, menunjukkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang efektif dan berbasis informasi yang akurat. Dalam konteks bisnis energi terbarukan yang semakin strategis bagi Indonesia, narasi yang dibangun melalui media sangat memengaruhi persepsi publik terhadap transisi energi yang sedang dijalankan. Kesalahan informasi dapat menghambat kemajuan dan kepercayaan terhadap sektor ini.
Dalam pandangan Benny Siga Butarbutar, penguatan media arus utama bukan hanya tanggung jawab lembaga pers itu sendiri, tetapi juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah perlu memastikan kebebasan pers dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi media untuk bekerja secara profesional. Sementara itu, masyarakat juga perlu dibekali literasi digital yang baik agar mampu membedakan antara informasi yang benar dan yang salah.
Komentar sebelumnya dari Dirut Antara mengenai peran Humas yang tidak bisa lagi menjadi "pemadam kebakaran" (seperti yang tertaut dalam artikel asli) juga relevan dalam konteks ini. Pernyataan tersebut menekankan bahwa fungsi humas harus bersifat proaktif dalam membangun narasi dan komunikasi, bukan hanya reaktif ketika terjadi krisis atau isu negatif. Hal ini sejalan dengan pentingnya media arus utama sebagai mitra strategis dalam membangun pemahaman publik yang benar.
Implikasi: Media sebagai Penjaga Persatuan dan Benteng Bangsa
Implikasi dari peran media arus utama dalam menjaga akurasi informasi di era digital sangat luas dan mendalam, terutama bagi sebuah negara seperti Indonesia yang memiliki keberagaman. Benny Siga Butarbutar secara tegas menyatakan bahwa media arus utama, terutama yang berhaluan negara dan memiliki jaringan luas, memiliki peran strategis sebagai penjaga kualitas informasi, penjaga persatuan, dan benteng bangsa.
1. Penjaga Kualitas Informasi: Di tengah banjir informasi, media arus utama bertindak sebagai filter. Dengan prinsip jurnalisme yang kuat, media memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga benar, berimbang, dan mendalam. Ini krusial untuk pengambilan keputusan yang rasional oleh publik, baik dalam kehidupan pribadi maupun sebagai warga negara.
2. Penjaga Persatuan: Disinformasi dan hoaks seringkali dirancang untuk memecah belah masyarakat berdasarkan perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Media arus utama, dengan kemampuannya menyajikan fakta secara objektif dan memberikan ruang bagi berbagai perspektif, dapat berperan dalam meredam polarisasi dan memperkuat kohesi sosial. Pemberitaan yang bertanggung jawab dapat membantu masyarakat memahami isu-isu kompleks tanpa terjerumus ke dalam kebencian dan permusuhan.
3. Benteng Bangsa: Dalam konteks keamanan nasional dan kedaulatan negara, informasi yang akurat sangat vital. Media arus utama dapat menjadi garis pertahanan pertama terhadap upaya destabilisasi melalui penyebaran informasi yang salah atau propaganda asing. Dengan menyajikan narasi yang benar tentang kondisi bangsa dan negaranya, media membantu membangun kesadaran dan rasa cinta tanah air di kalangan masyarakat.
"Seiring pertarungan pengaruh yang semakin tinggi, kata dia, media arus utama, terlebih yang memiliki jaringan luas dan berhaluan negara, sejatinya memiliki peran sangat strategis sebagai penjaga kualitas informasi, penjaga persatuan, dan benteng bangsa, sehingga perlu diperkuat," tutup Benny Siga Butarbutar.
Penguatan media arus utama menjadi investasi penting bagi masa depan bangsa. Di era digital yang penuh tantangan, kehadiran media yang profesional, akurat, dan berintegritas adalah aset yang tak ternilai untuk menjaga stabilitas, persatuan, dan kemajuan Indonesia.
Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © 2026 ANTARA



