Pemkot Bandung Siapkan TPST Tegalega untuk Produksi Briket RDF
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mematangkan strategi dalam pengelolaan sampah perkotaan dengan meningkatkan fungsionalitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Tegalega. Langkah strategis yang tengah dilakukan adalah memperluas cakupan produksi fasilitas tersebut, yang kini tidak hanya difokuskan pada pengolahan Refuse Derived Fuel (RDF) dalam bentuk curah, tetapi juga mulai dikembangkan untuk memproduksi briket RDF. Inovasi ini diyakini akan memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi serta memperluas potensi pemanfaatan hasil olahan sampah bagi masyarakat dan industri.
Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, dalam kunjungannya ke fasilitas TPST Tegalega pada Rabu (5/8), menegaskan bahwa transformasi ini merupakan bagian dari upaya Pemkot Bandung dalam mengoptimalkan infrastruktur pengolahan sampah yang telah tersedia. Menurut Iskandar, meskipun secara fisik fasilitas pengolahan sampah telah berdiri, namun terdapat beberapa aspek teknis dan peralatan pendukung yang memerlukan penyempurnaan sebelum fasilitas tersebut resmi diserahterimakan kepada pemerintah daerah.
Proses penyempurnaan ini menjadi krusial karena peralatan yang terpasang di TPST Tegalega merupakan bantuan pengadaan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Sebagai langkah kehati-hatian, Pemkot Bandung menetapkan standar tinggi dalam menerima aset tersebut. Iskandar menekankan bahwa pihaknya hanya akan menerima hibah peralatan tersebut apabila seluruh sistem telah teruji dan berfungsi secara optimal. Saat ini, TPST Tegalega sedang memasuki fase commissioning atau pengujian sistem secara menyeluruh untuk memastikan setiap mesin bekerja sesuai dengan standar operasional yang diharapkan.
Dalam fase evaluasi ini, tim teknis menemukan beberapa catatan penting. Hasil evaluasi menunjukkan adanya beberapa peralatan yang memerlukan perbaikan mendalam atau bahkan penggantian unit. Hal ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara spesifikasi teknis mesin dengan karakteristik fisik sampah yang dihasilkan di Kota Bandung. Karakteristik sampah perkotaan yang beragam menuntut mesin pengolah untuk memiliki ketahanan dan presisi yang spesifik. Oleh karena itu, penyesuaian spesifikasi mesin menjadi prioritas agar proses produksi tidak terhambat oleh kendala teknis di masa mendatang.
Meskipun saat ini kapasitas produksi RDF belum mencapai titik maksimal akibat kendala teknis tersebut, Iskandar menyatakan optimisme terhadap progres yang dicapai. Proses commissioning yang berjalan secara bertahap memberikan gambaran positif mengenai potensi besar fasilitas ini. Salah satu capaian yang dinilai signifikan adalah keberhasilan dalam mengolah sampah menjadi produk turunan berupa briket RDF. Berbeda dengan RDF curah yang hanya merupakan hasil pencacahan sampah, briket RDF memiliki bentuk yang lebih padat dan terstandarisasi, yang secara langsung meningkatkan nilai jual dan kemudahan distribusinya.
Pengembangan briket RDF ini bukan tanpa alasan. Iskandar menjelaskan bahwa briket RDF memiliki daya serap pasar yang lebih luas. Produk ini sangat diminati oleh para off-taker atau pihak industri yang membutuhkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, briket ini juga memiliki potensi besar untuk diserap oleh sektor UMKM sebagai bahan bakar kompor ramah lingkungan. Dengan beralih ke briket, Pemkot Bandung tidak hanya berhasil mengolah sampah, tetapi juga menciptakan produk bernilai guna tinggi yang bisa membantu menekan biaya operasional pelaku usaha kecil.
Lebih lanjut, Iskandar menegaskan bahwa fokus pada pengembangan briket tidak akan mengabaikan komitmen awal Pemkot Bandung. Pihaknya tetap memprioritaskan pemenuhan pasokan RDF curah bagi industri yang telah menjalin kerja sama sebelumnya. Strategi ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi produk, di mana TPST Tegalega akan membagi alur produksinya menjadi dua jenis: RDF curah untuk kebutuhan skala industri besar dan briket untuk kebutuhan energi yang lebih spesifik dan bernilai ekonomi tinggi.
Target ambisius telah ditetapkan untuk operasional TPST Tegalega. Jika seluruh rangkaian peralatan telah berfungsi optimal dan sistem pemilahan sampah di sumber berjalan dengan konsisten, TPST ini diproyeksikan mampu mengolah sampah hingga 25 ton per hari. Angka ini merupakan target minimal yang akan dikejar oleh Pemkot Bandung. Iskandar bahkan optimis, apabila ekosistem pemilahan sampah di tingkat rumah tangga dan kewilayahan berjalan lebih baik, maka kapasitas pengolahan dapat ditingkatkan melampaui angka tersebut. Kunci dari peningkatan kapasitas ini adalah kualitas sampah yang masuk ke TPST; semakin terpilah sampah tersebut sejak dari sumbernya, maka proses pengolahan di mesin akan semakin efisien.
Optimalisasi TPST Tegalega menjadi cermin dari visi besar Pemkot Bandung dalam mewujudkan manajemen persampahan yang modern dan berkelanjutan. Keberadaan TPST di tengah kota ini diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain dalam mengelola sampah secara mandiri dan produktif. Dengan mengubah paradigma sampah dari "beban" menjadi "sumber daya energi", Pemkot Bandung berharap dapat menekan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara signifikan.
Selain aspek teknologi, keberhasilan operasional TPST Tegalega juga sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Pemkot Bandung terus mendorong warga untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah yang sudah terpilah akan jauh lebih mudah diproses menjadi RDF atau briket. Sebaliknya, sampah yang tercampur akan mempersulit kinerja mesin dan mengurangi efisiensi produksi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam mensukseskan program ini.
Sebagai penutup, Iskandar menyatakan bahwa langkah-langkah perbaikan yang dilakukan saat ini adalah investasi jangka panjang. Pemkot Bandung tidak ingin terburu-buru meresmikan fasilitas yang nantinya justru akan menimbulkan kendala operasional yang berkepanjangan. Fokus saat ini adalah memastikan setiap komponen mesin, mulai dari alat pemilah, mesin pencacah, hingga mesin pencetak briket, bekerja dalam harmoni yang sempurna.
Melalui pengembangan TPST Tegalega, Pemkot Bandung ingin membuktikan bahwa pengelolaan sampah perkotaan yang padat penduduk dapat dilakukan dengan cara yang lebih cerdas. Dengan menghasilkan produk bernilai ekonomi, fasilitas ini diharapkan mampu membiayai operasionalnya sendiri di masa depan, sekaligus menjadi pusat edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya ekonomi sirkular. Harapan besarnya adalah agar TPST Tegalega tidak hanya menjadi tempat penampungan sampah, melainkan menjadi simbol kebangkitan Kota Bandung dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan mandiri secara energi melalui inovasi berbasis teknologi tepat guna. Upaya ini akan terus dievaluasi secara berkala guna memastikan setiap kebijakan yang diambil memberikan dampak positif bagi seluruh warga Bandung.



