Durian Sulteng Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Andalan, Kementan Turun Tangan

Durian Sulteng Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Andalan, Kementan Turun Tangan Sulawesi Tengah (Sulteng) kini memantapkan langkah strategis untuk menjadikan durian sebagai komoditas ekspor andalan nasional melalui dukungan penuh dari Kementerian Pertanian (Kementan). Langkah ini diambil untuk memastikan potensi lokal yang…

Durian Sulteng Dibidik Jadi Komoditas Ekspor Andalan, Kementan Turun Tangan

Sulawesi Tengah (Sulteng) kini memantapkan langkah strategis untuk menjadikan durian sebagai komoditas ekspor andalan nasional melalui dukungan penuh dari Kementerian Pertanian (Kementan). Langkah ini diambil untuk memastikan potensi lokal yang melimpah tidak hanya menjadi komoditas musiman, melainkan bertransformasi menjadi pilar pertumbuhan ekonomi jangka panjang bagi daerah dan negara. Keberhasilan ekspor produk unggulan daerah sangat bergantung pada konsistensi kualitas, penerapan inovasi pertanian, hilirisasi produk, serta pemenuhan standar ketat pasar global. Dengan penguatan ekspor yang berbasis data dan diversifikasi pasar, Sulawesi Tengah diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi meski di tengah fluktuasi permintaan pasar internasional.

Dalam upaya mempercepat pengembangan kawasan durian, Kementan telah menyalurkan bantuan berupa 14 ribu batang bibit durian bersertifikat kepada para petani di Sulawesi Tengah. Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Fausiah T Ladja, dalam acara Merdeka Ekspor Durian Sulteng 2026 di Kota Palu, menegaskan bahwa bantuan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah pusat untuk menopang keberlanjutan ekspor durian dari wilayah tersebut. Bibit yang disalurkan merupakan varietas unggul yang diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan lahan seluas 140 hektare.

Sebaran wilayah penerima bantuan mencakup sentra-sentra produksi durian potensial di Sulawesi Tengah, yakni Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-una, Tolitoli, Sigi, dan Donggala. Selain bibit, Kementan juga melengkapi paket bantuan dengan dukungan sarana produksi berupa 210 kilogram pupuk organik. Fausiah menambahkan bahwa seluruh bantuan tersebut telah diterima oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) setempat dan siap untuk didistribusikan kepada kelompok tani. Pemberian sarana produksi ini bertujuan untuk memastikan tanaman tumbuh optimal sejak masa penanaman hingga masa panen, sehingga kualitas buah yang dihasilkan memenuhi kualifikasi ekspor yang diinginkan pasar luar negeri.

Secara geografis, Sulawesi Tengah memiliki keunggulan komparatif yang sangat mendukung pengembangan hortikultura, khususnya durian. Iklim dan kontur tanah di berbagai kabupaten di Sulteng terbukti sangat cocok untuk pengembangan durian berkualitas premium, yang menjadikannya kandidat kuat sebagai sentra ekspor durian utama di Indonesia. Durian kini dipandang sebagai sumber ekonomi baru yang menjanjikan, tidak hanya bagi peningkatan kesejahteraan petani di tingkat lokal tetapi juga bagi penguatan devisa nasional. Kementan pun mengimbau para petani untuk menjaga dan merawat tanaman dengan baik agar produktivitas yang dihasilkan dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.

Saat ini, Sulawesi Tengah telah membuktikan diri sebagai eksportir yang kompetitif. Ekspor durian beku (frozen) jenis Montong asal Sulteng telah berhasil menembus pasar China melalui jalur logistik Pelabuhan Pantoloan, Palu. Data dari Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat capaian yang impresif sepanjang Januari hingga Juli 2026, di mana total ekspor durian beku ke Negeri Tirai Bambu telah mencapai 272 kontainer dengan total volume sebanyak 7.344 ton. Jika dirinci, setiap kontainer memuat sekitar 27 ton durian beku, dengan nilai ekonomi yang sangat fantastis, yakni berkisar antara Rp2,5 miliar hingga Rp2,8 miliar per kontainer. Angka ini menegaskan bahwa durian bukan sekadar buah konsumsi domestik, melainkan komoditas bernilai tinggi dengan daya tawar kuat di pasar global.

Sebagai salah satu produsen durian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki rata-rata produksi nasional mencapai 1,8 juta ton per tahun dengan luas lahan panen sekitar 105 ribu hektare. Kementan menargetkan Sulawesi Tengah dapat memberikan kontribusi signifikan untuk menopang target produksi nasional tersebut di masa depan. Pengembangan kawasan yang masif di Sulteng diharapkan mampu meningkatkan volume ekspor secara bertahap, sekaligus memperluas jangkauan pasar ke negara-negara lain selain China.

Ke depan, tantangan utama yang harus dihadapi adalah menjaga konsistensi mutu pascapanen. Proses hilirisasi, seperti pengolahan durian beku, menjadi strategi krusial untuk menambah nilai jual dibandingkan menjual buah segar. Dengan dukungan teknologi pengemasan dan rantai dingin (cold chain) yang mumpuni, durian Sulteng diyakini mampu bersaing dengan durian dari negara produsen lain seperti Thailand atau Vietnam. Pemerintah daerah dan pusat kini tengah bersinergi dalam memperkuat infrastruktur logistik dan pengawasan kualitas agar kepercayaan pasar global terhadap durian Indonesia tetap terjaga.

Program pengembangan kawasan ini juga menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan pemberdayaan petani secara lebih terstruktur. Melalui pendampingan teknis dari dinas terkait dan penyediaan sarana produksi yang tepat sasaran, petani diharapkan mampu meningkatkan skala usaha mereka. Keberhasilan program ini akan menciptakan ekosistem bisnis yang sehat, di mana petani mendapatkan harga jual yang layak, pelaku usaha ekspor mendapatkan pasokan yang stabil, dan pemerintah daerah mendapatkan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

Selain aspek produksi, penguatan ekspor durian di Sulteng juga akan memicu geliat ekonomi di sektor pendukung lainnya, seperti industri pengemasan, logistik transportasi, dan jasa pengiriman barang melalui pelabuhan. Pelabuhan Pantoloan, sebagai pintu keluar utama ekspor, kini terus dioptimalkan fungsinya untuk memfasilitasi arus barang yang lebih cepat dan efisien. Sinergi antara kebijakan pusat dan eksekusi di lapangan menjadi kunci utama agar target Sulawesi Tengah sebagai "Lumbung Durian Ekspor" benar-benar terealisasi dalam beberapa tahun mendatang.

Sebagai penutup, komitmen Kementan untuk terus memantau dan memberikan dukungan lanjutan bagi petani durian di Sulteng adalah sinyal positif bagi iklim investasi di sektor pertanian. Dengan pengelolaan yang baik, riset varietas yang berkelanjutan, dan komitmen terhadap standar kualitas global, durian asal Sulawesi Tengah bukan tidak mungkin akan menjadi ikon baru ekspor Indonesia yang disegani di pasar internasional. Upaya ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai pemain utama dalam pasar buah tropis dunia, sekaligus memperkokoh ketahanan ekonomi nasional berbasis sektor agribisnis yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Bagikan artikel ini

XWhatsApp