Flores Siap Jadi Magnet Wisata Religi, BPOLBF Mulai Agenda 2026
Pulau Flores kini tengah memantapkan posisinya sebagai destinasi wisata religi kelas dunia melalui serangkaian agenda strategis yang disusun oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF). Langkah ini diambil bukan sekadar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, melainkan sebagai upaya sistematis dalam mengintegrasikan nilai spiritual, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Dengan peluncuran Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2026 di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores resmi membuka lembaran baru dalam peta pariwisata Indonesia yang mengedepankan narasi iman sebagai daya tarik utama.
Wisata religi memiliki karakteristik unik yang mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan. Berbeda dengan wisata konvensional, peziarah atau wisatawan religi cenderung memiliki masa tinggal (length of stay) yang lebih lama karena keterikatan emosional dan spiritual dengan destinasi yang dikunjungi. Hal ini secara otomatis berdampak pada peningkatan perputaran uang di sektor jasa, akomodasi, kuliner, hingga produk ekonomi kreatif dan UMKM di sekitar situs keagamaan. Selain itu, pengelolaan wisata religi yang terintegrasi dengan kearifan lokal dapat menjadi instrumen efektif dalam menjaga kelestarian situs sejarah dan memperkuat identitas budaya masyarakat setempat.
BPOLBF, di bawah arahan Pelaksana Tugas Direktur Utama Andhy MT Marpaung, menegaskan bahwa pengembangan wisata religi di Flores telah melalui perencanaan matang. Peluncuran Festival Golo Curu di Natas Labar, Ruteng, menjadi momentum penting yang menandai dimulainya rangkaian perayaan spiritual yang akan berpuncak pada 2-7 Oktober 2026. Andhy menekankan bahwa festival ini adalah bukti nyata bahwa pariwisata tidak harus bersifat komersial semata, tetapi dapat tumbuh subur dari nilai-nilai iman dan tradisi yang telah dihidupi masyarakat Flores selama berabad-abad.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam kesuksesan agenda ini. Pemerintah daerah, pihak keuskupan, komunitas adat, dan pelaku industri kreatif bahu-membahu menciptakan ekosistem yang mendukung kenyamanan peziarah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga lokal. Festival Golo Curu bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah platform untuk mempromosikan kekayaan budaya Manggarai yang harmonis dengan alam. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan efek domino positif, di mana setiap kedatangan peziarah akan menggerakkan roda ekonomi dari tingkat desa hingga kota.
Penting untuk dicatat bahwa Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2026 telah mendapatkan pengakuan nasional melalui program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang digagas oleh Kementerian Pariwisata. Masuknya festival ini ke dalam KEN 2026 memberikan legitimasi bahwa kualitas penyelenggaraan, dampak ekonomi, dan nilai budaya yang diangkat telah memenuhi standar nasional. Flores kini memiliki tiga "permata" dalam kalender KEN 2026, yakni Festival Golo Curu di Manggarai, Festival Lamaholot di Lembata, dan Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara di Manggarai Barat. Khusus untuk Festival Golo Koe, pencapaiannya masuk dalam jajaran "Top 10 Karisma Event Nusantara 2026" menjadi bukti bahwa Flores telah menjadi destinasi unggulan dalam peta wisata religi Indonesia.
Pengakuan ini tentu menjadi beban sekaligus tantangan bagi pengelola destinasi di Flores. Andhy MT Marpaung menyatakan harapannya agar rangkaian festival ini mampu memperkuat citra Flores sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman holistik—perpaduan antara pengalaman spiritual yang mendalam, kekayaan tradisi yang eksotis, dan keindahan alam yang memukau. Dengan narasi yang kuat dan pengelolaan yang berkelanjutan, Flores diproyeksikan mampu menarik segmen pasar wisatawan religi baik dari domestik maupun mancanegara, terutama dari negara-negara dengan basis populasi Katolik yang besar.
Ketua Umum Panitia Festival Golo Curu 2026, Theodosius Yosefus Nono, menambahkan bahwa agenda ini adalah wujud nyata dari komitmen pastoral Keuskupan Ruteng. Melalui pendekatan yang integral dan kontekstual, gereja ingin hadir di tengah masyarakat tidak hanya melalui pelayanan rohani, tetapi juga melalui pemberdayaan sosial-ekonomi. Golo Curu dipandang sebagai anugerah Tuhan yang harus dirawat dan dibagikan kepada dunia. Tema festival tahun ini, "Berziarah Bersama Bunda Maria dalam Pengharapan, Merajut Iman, Membangun Persaudaraan, Menyalakan Misi, dan Merawat Kehidupan," mencerminkan visi besar untuk menjadikan wisata sebagai sarana perjumpaan antarmanusia yang membawa misi perdamaian dan kemanusiaan.
Rangkaian kegiatan festival ini sendiri sangat komprehensif. Sebelum mencapai puncak acara pada awal Oktober, umat akan terlibat dalam ziarah Patung Maria Ratu Rosari yang akan diarak ke berbagai paroki di wilayah selatan Kevikepan Ruteng mulai 16 hingga 30 September 2026. Prosesi ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan atmosfir religiusitas masyarakat Manggarai secara langsung. Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ruang refleksi yang melibatkan partisipasi aktif umat, sehingga memberikan pengalaman otentik bagi pengunjung yang ingin mempelajari budaya lokal.
Untuk mendukung keberhasilan agenda 2026 ini, BPOLBF juga telah menyiapkan berbagai langkah strategis. Pertama, penguatan infrastruktur dasar di sekitar situs ziarah agar lebih ramah bagi wisatawan, termasuk penyediaan fasilitas umum, aksesibilitas transportasi, dan penataan ruang publik. Kedua, peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal melalui pelatihan pelayanan prima bagi pelaku UMKM dan penyedia jasa wisata. Ketiga, pemasaran digital yang masif untuk menjangkau audiens global dengan mengedepankan narasi "Flores sebagai Tanah Terjanji bagi Wisata Religi."
Lebih jauh lagi, pengembangan wisata religi di Flores diharapkan dapat mengatasi ketimpangan pariwisata yang selama ini sering terpusat hanya di Labuan Bajo. Dengan mengangkat potensi dari Manggarai, Lembata, hingga wilayah lain di Flores, BPOLBF berupaya menciptakan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat di sepanjang jalur wisata religi. Wisatawan yang datang untuk berziarah di Golo Curu, misalnya, akan didorong untuk mengeksplorasi situs-situs wisata alam di sekitarnya, sehingga lama tinggal mereka di Flores akan meningkat signifikan.
Keberlanjutan lingkungan juga menjadi aspek krusial dalam agenda 2026 ini. Mengingat sebagian besar destinasi religi di Flores terletak di kawasan perbukitan atau dekat dengan situs alam yang sensitif, penyelenggaraan festival akan mengedepankan prinsip "wisata hijau." Penggunaan atribut ramah lingkungan, manajemen sampah yang ketat, dan edukasi terhadap wisatawan untuk menjaga kebersihan situs ziarah akan menjadi standar operasional yang diterapkan. Hal ini sejalan dengan tema besar "Merawat Kehidupan" yang diusung dalam Festival Golo Curu, yang mengisyaratkan bahwa iman harus dibuktikan dengan tindakan menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Membangun sebuah destinasi wisata religi yang mapan memerlukan konsistensi dalam pelayanan dan keramahan masyarakat. Namun, dengan modal sosial yang kuat berupa gotong-royong dan keramah-tamahan khas masyarakat Flores, optimisme untuk mewujudkan target ini sangat terbuka lebar. BPOLBF berkomitmen untuk terus memfasilitasi dialog antara pelaku industri, tokoh agama, dan masyarakat agar setiap kebijakan yang diambil tetap berada pada jalur yang memberikan manfaat bagi semua pihak.
Sebagai penutup, agenda 2026 ini bukan sekadar tentang perayaan atau festival. Ini adalah sebuah gerakan besar untuk mentransformasi wajah pariwisata Flores menjadi lebih bermakna dan berakar pada nilai-nilai spiritualitas. Ketika seseorang datang ke Flores bukan hanya untuk melihat pemandangan, tetapi juga untuk menemukan kedamaian batin, maka pada saat itulah pariwisata telah mencapai tingkat tertinggi dari fungsinya. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, Flores siap menyongsong 2026 sebagai magnet wisata religi dunia yang menawarkan harapan, persaudaraan, dan misi untuk merawat kehidupan bagi siapa saja yang datang berkunjung.



