Menggugat Jejak Kolonialisme dan Estetika: ISI Yogyakarta Bedah Warisan Walter Spies melalui Film ROOTS
Yogyakarta, 6 Mei 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, melalui Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), kembali mempertegas posisinya sebagai mercusuar pemikiran kritis dalam dunia seni rupa Indonesia. Pada Jumat, 8 Mei 2026, kampus seni terkemuka ini akan menyelenggarakan pemutaran eksklusif film dokumenter berjudul ROOTS: One Hundred Years Walter Spies in Bali. Karya sutradara Michael Schindhelm ini bukan sekadar tayangan visual, melainkan sebuah ruang refleksi sejarah yang krusial bagi mahasiswa, akademisi, dan publik luas.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Sasana Ajiyasa Lantai 2 FSRD ISI Yogyakarta ini dirancang sebagai platform untuk mendiskonstruksi narasi sejarah Bali, khususnya terkait pengaruh Walter Spies—seorang seniman Jerman yang menetap di Bali pada awal abad ke-20—terhadap lanskap seni, budaya, dan pariwisata modern di Pulau Dewata.
Fakta Utama: Membedah Dialektika Bali dan Walter Spies
Walter Spies adalah figur yang kontroversial sekaligus fenomenal. Kehadirannya di Bali pada tahun 1920-an sering kali dianggap sebagai katalisator yang membawa seni Bali ke mata dunia. Namun, film ROOTS hadir untuk memberikan perspektif yang lebih dalam dan, mungkin, lebih tajam. Film ini tidak hanya menyoroti kontribusi estetis Spies dalam lukisan dan musik, tetapi juga mempertanyakan bagaimana narasi "Bali sebagai surga" dikonstruksi melalui lensa kolonial.
Dalam konteks akademik di ISI Yogyakarta, pemutaran film ini menjadi agenda strategis. FSRD ISI Yogyakarta memandang bahwa mahasiswa seni tidak boleh hanya mahir dalam teknis penciptaan karya, tetapi juga harus memiliki kecakapan dalam membaca fenomena budaya. ROOTS menjadi medium untuk mempertanyakan relasi kompleks antara seni, kolonialisme, eksotisme, dan komodifikasi budaya yang hingga hari ini masih membayangi industri pariwisata global.
Kronologi Kejadian dan Detail Acara
Agenda ini telah disusun secara sistematis untuk memberikan pengalaman intelektual yang utuh bagi para peserta. Berikut adalah rincian rangkaian acara yang akan berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026:
- 13.30 – 13.45 WIB: Pembukaan resmi oleh Dekan FSRD ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T. Dalam sesi pembukaan ini, akan ditegaskan kembali misi ISI Yogyakarta sebagai institusi yang mengintegrasikan riset dan praktik artistik.
- 13.45 – 15.00 WIB: Pemutaran film ROOTS: One Hundred Years Walter Spies in Bali. Film ini akan membawa audiens menelusuri garis waktu satu abad jejak Spies di Bali.
- 15.00 – 15.30 WIB: Sesi diskusi panel yang mendalam. Diskusi ini akan menghadirkan Yudha Bantono (pemerhati dari Bali Art Focus) dan Wiwik Sri Wulandari, M.Sn. (dosen Program Studi Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta).
Pendaftaran kegiatan ini dilakukan melalui sistem daring di linktr.ee/bukusenirupa. Mengingat keterbatasan kapasitas ruangan, pihak panitia sangat menyarankan calon peserta untuk segera melakukan registrasi demi memastikan ketersediaan kursi.
Data Pendukung: Mengapa Walter Spies Masih Relevan?
Untuk memahami urgensi kegiatan ini, kita harus melihat bagaimana sejarah seni rupa Indonesia sering kali terjebak dalam romantisisme kolonial. Walter Spies tiba di Bali dan secara tidak langsung membentuk persepsi Barat terhadap kebudayaan lokal. Data sejarah menunjukkan bahwa Spies berperan dalam memodifikasi pertunjukan seni tradisional seperti Tari Kecak—yang pada mulanya merupakan ritual sakral—menjadi pertunjukan yang lebih "ramah" bagi turis internasional.
Dalam riset budaya, fenomena ini sering dikaji sebagai "orientalisme". Film ROOTS karya Michael Schindhelm secara cermat mengumpulkan data arsip, wawancara, dan analisis visual untuk menunjukkan bahwa apa yang kita sebut sebagai "budaya Bali asli" hari ini, sebenarnya adalah hasil negosiasi panjang antara tradisi lokal dan ekspektasi global yang dimulai sejak era Spies. Bagi mahasiswa di FSRD ISI Yogyakarta, data ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bahan bakar untuk berdiskusi tentang bagaimana seniman masa kini harus memposisikan diri agar tidak sekadar menjadi agen pariwisata, melainkan agen kebudayaan yang berintegritas.
Tanggapan Pihak Terkait dan Visi Akademik
Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T., selaku Dekan FSRD ISI Yogyakarta, menekankan bahwa kegiatan ini adalah perwujudan dari visi institusi untuk membangun ekosistem pendidikan yang kritis. "Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penonton pasif. Mereka adalah calon intelektual seni yang harus mampu mengurai masalah, mengumpulkan data, dan menganalisis fenomena budaya secara logis dan reflektif," ungkapnya dalam rilis persiapan acara.
Senada dengan hal tersebut, Wiwik Sri Wulandari, M.Sn., yang akan menjadi panelis dalam diskusi nanti, menambahkan bahwa pemutaran film ini merupakan bagian dari upaya memperluas ruang dialog antara pendidikan seni dan realitas sosial. Menurutnya, kolaborasi antara praktisi seni (Bali Art Focus) dan akademisi (ISI Yogyakarta) sangat krusial untuk memecah kebuntuan dalam memahami sejarah seni Indonesia yang sering kali tersumbat oleh narasi tunggal.
Implikasi: Membangun Literasi Seni dan Budaya Masa Depan
Penyelenggaraan pemutaran film ROOTS memiliki implikasi jangka panjang bagi mahasiswa dan ekosistem seni di Yogyakarta. Pertama, kegiatan ini memperkuat kapasitas literasi seni. Dengan memahami bagaimana sejarah sebuah identitas (dalam hal ini Bali) dibentuk oleh kekuatan luar, mahasiswa diharapkan lebih sadar akan posisi mereka dalam industri budaya global.
Kedua, ini adalah bentuk nyata dari komitmen ISI Yogyakarta dalam mendukung riset budaya. Di tengah gempuran konten digital yang instan, menyediakan ruang selama dua jam penuh untuk menonton dan mendiskusikan dokumenter sejarah adalah bentuk perlawanan terhadap pendangkalan informasi. Mahasiswa diajak untuk melatih kemampuan berpikir reflektif—sebuah keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seniman atau peneliti seni yang berdampak bagi kemanusiaan.
Ketiga, kolaborasi lintas pihak ini membuka jaringan baru. Dengan melibatkan Bali Art Focus, ISI Yogyakarta tidak lagi berdiri sebagai "menara gading" yang terisolasi dari perkembangan seni di luar kampus, melainkan sebagai pusat saraf (hub) yang menghubungkan komunitas seni, riset, dan praktik profesional.
Tantangan ke Depan
Namun, penyelenggaraan acara ini bukannya tanpa tantangan. Tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan wacana kritis ini menjadi praktik artistik yang relevan. Apakah pemutaran film ini hanya akan berhenti pada diskusi di dalam gedung, ataukah akan memicu riset-riset baru yang lebih substansial? ISI Yogyakarta berkomitmen untuk menjadikan forum ini sebagai titik awal bagi rangkaian kajian lanjutan yang lebih intensif mengenai dekolonisasi seni di Indonesia.
Kesimpulan
Kegiatan pemutaran film ROOTS: One Hundred Years Walter Spies in Bali adalah potret dedikasi ISI Yogyakarta dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikan tinggi seni yang berorientasi pada masa depan. Dengan mengangkat narasi sejarah yang kompleks, institusi ini berhasil menyediakan panggung bagi diskursus yang sehat, kritis, dan sangat diperlukan di era kontemporer ini.
Bagi publik yang tertarik, pendaftaran masih dibuka melalui linktr.ee/bukusenirupa. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi kontak panitia di +62 895-3231-05919. Mari hadir dan menjadi bagian dari percakapan penting ini; karena seni, pada akhirnya, bukan hanya tentang keindahan visual, melainkan tentang keberanian untuk bertanya dan merenungkan kembali dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah.

Catatan: Artikel ini disusun sebagai wujud dukungan terhadap literasi seni dan kebudayaan, serta sebagai refleksi atas peran strategis institusi seni dalam merawat ingatan sejarah bangsa.



