Golok Ciomas Tampil pada Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026: Merawat Identitas dan Warisan Leluhur Banten

Golok Ciomas Tampil pada Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026: Merawat Identitas dan Warisan Leluhur Banten Pemerintah Kabupaten Serang secara resmi menegaskan bahwa keikutsertaan Golok Ciomas dalam gelaran Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026 merupakan sebuah momentum penting dalam pengakuan eksistensi, nilai…

Golok Ciomas Tampil pada Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026: Merawat Identitas dan Warisan Leluhur Banten

Pemerintah Kabupaten Serang secara resmi menegaskan bahwa keikutsertaan Golok Ciomas dalam gelaran Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026 merupakan sebuah momentum penting dalam pengakuan eksistensi, nilai historis, serta kedalaman filosofis senjata tradisional kebanggaan masyarakat Banten tersebut di kancah nasional. Wakil Bupati Serang, Najib Hamas, saat meninjau langsung stan pameran di Museum Negeri Provinsi Banten, Kota Serang, Selasa (28/7/2026), menyatakan bahwa Golok Ciomas bukan sekadar benda tajam atau senjata fisik semata, melainkan manifestasi kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur di wilayah Ciomas, Kabupaten Serang.

Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026 yang mengusung tema besar "Merawat Jejak Peradaban, Menguatkan Identitas Nusantara" ini berlangsung selama hampir satu bulan, yakni sejak 27 Juli hingga 20 Agustus 2026. Acara berskala nasional ini menjadi wadah pertemuan bagi berbagai pusaka unggulan dari 11 provinsi dan 27 museum yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Kehadiran Golok Ciomas di tengah koleksi pusaka dari daerah lain menempatkannya sebagai salah satu primadona yang menarik perhatian pengunjung, baik dari kalangan akademisi, kolektor, maupun masyarakat umum.

Menurut Najib Hamas, filosofi yang terkandung dalam Golok Ciomas melampaui fungsinya sebagai alat pertahanan diri. Setiap bilah golok yang ditempa di Ciomas memiliki pakem, ritual, dan tata cara pembuatan yang khas, yang mencerminkan karakter masyarakat Banten yang tangguh, religius, dan menjunjung tinggi kehormatan. Oleh karena itu, pengakuan dalam pameran nasional ini dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga agar warisan takbenda ini tidak tergerus oleh modernisasi. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian tradisi pandai besi di Ciomas, yang telah menjadi denyut nadi ekonomi dan budaya di wilayah tersebut selama berabad-abad.

Pamor Golok Ciomas sendiri sesungguhnya sudah melintasi batas-batas geografis nusantara. Najib mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, banyak seniman, budayawan, hingga peneliti dari mancanegara yang sengaja berkunjung ke Kecamatan Ciomas. Mereka datang dengan tujuan spesifik: mendalami sejarah metalurgi tradisional, mempelajari teknik penempaan yang unik, serta memahami makna simbolis di balik ukiran atau pamor yang ada pada bilah golok tersebut. Ketertarikan internasional ini menjadi bukti nyata bahwa Golok Ciomas memiliki nilai universal yang diakui dunia sebagai bagian dari peradaban manusia yang patut dirawat.

Lebih lanjut, Wakil Bupati Serang mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Serang dan Provinsi Banten, untuk memanfaatkan ajang pameran ini sebagai sarana edukasi. Dalam pandangannya, pameran pusaka bukan sekadar pameran benda mati, melainkan ruang kelas terbuka untuk belajar tentang sejarah perjuangan, nilai-nilai etika, dan identitas jati diri bangsa. Dengan mengenal lebih dekat pusaka daerahnya, diharapkan tumbuh rasa memiliki dan kebanggaan (pride) yang kuat, yang nantinya akan menjadi benteng pertahanan bagi generasi penerus dalam menghadapi tantangan arus budaya asing.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Tata Usaha UPT Taman Budaya dan Museum pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Susilaningsih, menyatakan bahwa terpilihnya Provinsi Banten sebagai tuan rumah untuk pameran berskala nasional tahun 2026 ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus tantangan. Banten, dengan sejarah Kesultanan dan tradisi persilatannya yang kuat, memiliki korelasi erat dengan keberadaan senjata tradisional. Pameran ini menjadi media yang sangat efektif untuk mempromosikan pariwisata berbasis budaya di Banten, di mana pengunjung tidak hanya disuguhi visual senjata, tetapi juga narasi sejarah di balik setiap pusaka yang dipamerkan.

Susilaningsih menambahkan bahwa pameran ini dirancang untuk menjadi ruang interaktif. Masyarakat tidak hanya diajak melihat, tetapi juga berdialog dengan para kurator dan ahli pusaka yang hadir di lokasi. Melalui interaksi tersebut, diharapkan mitos dan fakta mengenai Golok Ciomas dapat dipahami dengan proporsional. Ia berharap momentum ini mampu memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya nasional, sekaligus memastikan bahwa regenerasi perajin Golok Ciomas di masa depan tetap terjaga.

Kehadiran Pameran Nasional Pusaka Nusantara 2026 ini diharapkan tidak berhenti pada seremonial pembukaan dan penutupan saja. Target utamanya adalah keberlanjutan. Pemerintah daerah bersama dengan komunitas pegiat budaya diharapkan dapat merumuskan langkah konkret pasca-pameran, seperti digitalisasi data pusaka, pendirian pusat informasi budaya, atau sertifikasi bagi para perajin tradisional agar karya mereka memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan perlindungan hukum yang jelas.

Dalam konteks yang lebih luas, Golok Ciomas dipandang sebagai instrumen pemersatu. Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang budaya di Indonesia berkumpul di satu ruang pameran, mereka saling berbagi perspektif mengenai pusaka masing-masing. Pertukaran pengetahuan ini secara otomatis akan membangun rasa saling menghargai antar-daerah. Identitas Nusantara yang kuat, sebagaimana tema pameran, hanya bisa terwujud jika setiap daerah mampu merawat "jejak peradaban" masing-masing dengan konsisten.

Golok Ciomas, dengan segala keistimewaannya—mulai dari bahan baku baja pilihan hingga ritual pembuatannya yang sakral—kini semakin kokoh posisinya sebagai ikon budaya Kabupaten Serang. Melalui pameran nasional ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: bahwa di balik setiap guratan besi yang ditempa, terdapat semangat juang dan doa yang selalu menyertai setiap gerak langkah masyarakat Banten. Pemerintah Kabupaten Serang optimis bahwa melalui promosi yang tepat, Golok Ciomas akan terus menjadi simbol kehormatan yang tidak hanya membanggakan daerah, tetapi juga memperkaya khazanah budaya bangsa di mata dunia internasional.

Pameran ini menjadi pengingat bahwa di era digital yang serba cepat ini, nilai-nilai tradisional yang tertuang dalam pusaka seperti Golok Ciomas adalah jangkar yang menahan kita agar tidak kehilangan arah. Dengan terus merawat tradisi dan memberikan ruang bagi pusaka-pusaka nusantara untuk tampil, kita sebenarnya sedang memastikan bahwa identitas bangsa akan terus lestari melintasi zaman. Pameran Pusaka Nusantara 2026 bukan sekadar pameran, melainkan sebuah pernyataan komitmen bahwa Banten dan seluruh daerah di Indonesia siap menjaga warisan leluhur sebagai modal pembangunan karakter bangsa di masa depan.

Bagikan artikel ini

XWhatsApp