Ohoi Ngadi, Kota Tual – Kawasan Wisata Danau Waren di Ohoi Ngadi, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Maluku, kini tengah menatap masa depan yang lebih cerah. Melalui inisiatif strategis mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam tim Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Tualang Tual, sebuah gelaran budaya bertajuk "Katong Pung Danau Waren" resmi dihelat pada Minggu (26/7). Acara ini bukan sekadar perayaan sesaat, melainkan sebuah manifestasi dari upaya memadukan pelestarian tradisi, perlindungan ekosistem lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan di tanah Kei.
Fakta Utama: Sinergi Akademisi dan Kearifan Lokal
Festival "Katong Pung Danau Waren" merupakan tonggak sejarah bagi Ohoi Ngadi. Kegiatan ini diprakarsai oleh mahasiswa KKN-PPM UGM bekerja sama dengan Pemerintah Desa Ngadi. Pemilihan nama "Katong Pung Danau Waren"—yang dalam dialek lokal berarti "Danau Waren Kita"—bukan tanpa alasan. Frasa tersebut mengandung pesan kepemilikan kolektif, sebuah panggilan moral bagi seluruh elemen masyarakat Kota Tual untuk tidak hanya menikmati keindahan danau, tetapi juga memikul tanggung jawab atas kelestariannya.
Danau Waren sendiri merupakan aset ekologis dan budaya yang sangat berharga. Secara geografis dan sosiologis, danau ini memiliki potensi besar sebagai magnet wisata yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif lokal. Dengan adanya festival ini, kawasan yang selama ini mungkin belum tergarap optimal, mulai diperkenalkan kembali kepada publik sebagai destinasi wisata unggulan dengan narasi yang lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan.
Kronologi Kejadian: Rangkaian Perhelatan yang Memikat
Perhelatan festival dimulai tepat pada pukul 14.00 WIT. Sejak siang hari, lokasi di sekitar Danau Waren telah dipadati oleh berbagai kalangan, mulai dari pejabat Pemerintah Kota Tual, tokoh adat, perangkat desa, hingga warga lokal yang antusias menyaksikan transformasi kawasan mereka.
Acara dibuka dengan penampilan seni budaya lokal yang merefleksikan identitas masyarakat Kei yang kental dengan nilai-nilai adat. Setelah pembukaan resmi, agenda berlanjut pada aksi simbolis penanaman bibit mangrove di sepanjang tepian danau. Aksi ini menjadi simbol komitmen terhadap keberlangsungan ekosistem air payau dan pencegahan abrasi.
Tak berhenti di situ, rangkaian acara berlanjut dengan kegiatan ekonomi dan sosial yang beragam:
- Pelelangan Anggrek di Rumah Apung: Sebuah inisiatif kreatif untuk mengenalkan flora khas setempat sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi komunitas budidaya anggrek.
- Peninjauan Lapak UMKM: Pameran produk olahan khas Ohoi Ngadi yang menunjukkan potensi industri rumah tangga masyarakat setempat.
- Layanan Kesehatan: Penyediaan lapak cek gigi gratis yang disambut antusias oleh warga sebagai wujud pengabdian masyarakat di bidang kesehatan.
- Workshop Meronce Anak: Penutup kegiatan yang hangat, memberikan edukasi kreatif bagi generasi muda di Ohoi Ngadi.
Data Pendukung: Potensi dan Tantangan Pengembangan
Berdasarkan observasi tim KKN-PPM UGM, Danau Waren memang memiliki potensi yang belum terjamah sepenuhnya. Tim KKN yang dipimpin oleh Beatrix Queensha Ladyadenta (Queen), mahasiswa Program Studi Pariwisata UGM, mencatat bahwa kendala utama pengembangan wisata di lokasi ini terletak pada beberapa aspek:

- Penataan Kawasan: Belum adanya zonasi yang jelas antara area konservasi dan area komersial.
- Penguatan Aktivitas Wisata: Minimnya atraksi atau paket wisata yang bisa ditawarkan kepada pengunjung secara konsisten.
- Strategi Promosi: Kurangnya narasi digital yang menarik untuk menjangkau wisatawan luar daerah.
- Integrasi Kelembagaan: Perlunya koordinasi yang lebih solid antara pemerintah desa, pelaku UMKM, dan pengelola wisata.
Analisis mendalam ini kemudian melahirkan sebuah dokumen strategis berupa Mini Masterplan Pengembangan Danau Waren Berbasis Masyarakat. Dokumen ini memetakan potensi wisata, desain tata ruang kawasan, penggalian cerita rakyat (storytelling) sebagai daya tarik wisata, serta rekomendasi penguatan kelembagaan lokal agar pengelolaan wisata tidak bergantung pada pihak luar saja.
Tanggapan Pihak Terkait: Seruan Moral dan Komitmen Pemerintah
Wakil Wali Kota Tual, H. Amir Rumra, S.Pi., M.Si., memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif mahasiswa. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa Danau Waren adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga.
"Tema ‘Katong Pung Danau Waren’ bukan sekadar slogan, melainkan seruan moral bahwa danau ini adalah milik bersama. Kita harus menjaganya dengan semangat Ain Ni Ain, falsafah hidup masyarakat Kei yang mengajarkan bahwa kita semua adalah satu keluarga," ujar Amir.
Ia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan pasca-KKN. Pemerintah Kota Tual berharap semangat yang dibawa mahasiswa tidak luntur setelah program berakhir. Senada dengan itu, Pejabat Ohoi Ngadi, Hasan Bugis, berharap festival ini bisa menjadi agenda tahunan kota. "Pengembangan aset daerah membutuhkan sinergi lintas sektor. Kami berharap kolaborasi ini berlanjut menjadi kalender tahunan yang mampu mendongkrak kemajuan Ohoi Ngadi secara ekonomi dan sosial," tegas Hasan.
Implikasi: Menuju Kemandirian Ekonomi dan Pelestarian Lingkungan
Dampak dari kegiatan ini sangat luas bagi masyarakat Ohoi Ngadi. Secara ekonomi, pelibatan UMKM dalam festival memberikan panggung bagi produk lokal untuk dikenal lebih luas. Secara sosial, keterlibatan aktif warga dalam workshop dan kegiatan budaya meningkatkan kepercayaan diri komunitas untuk mengelola aset wisata mereka sendiri.
Namun, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada implementasi Mini Masterplan yang sedang disusun. Jika dokumen ini berhasil diintegrasikan ke dalam kebijakan desa, maka Danau Waren bukan lagi sekadar danau biasa, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
Keberlanjutan melalui Mini Masterplan
Tim KKN UGM, di bawah bimbingan akademis, kini tengah merampungkan Mini Masterplan tersebut. Dokumen ini dirancang sebagai panduan bagi Pemerintah Ohoi Ngadi untuk melakukan pengembangan bertahap. Fokus utama adalah menciptakan wisata yang ramah lingkungan (ecotourism) namun tetap menguntungkan secara ekonomi bagi warga.

Salah satu poin penting dalam masterplan tersebut adalah penekanan pada "penguatan kelembagaan lokal". Ini berarti membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang dibekali dengan kemampuan manajerial, pelayanan prima, dan manajemen pemasaran digital. Dengan cara ini, ketika mahasiswa KKN telah kembali ke Yogyakarta, masyarakat sudah memiliki sistem yang mapan untuk meneruskan tongkat estafet pengelolaan.
Penutup: Harapan di Tepi Danau
Keberhasilan "Katong Pung Danau Waren" membuktikan bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat lokal mampu menciptakan perubahan positif. Festival ini menjadi bukti nyata bahwa pariwisata yang berkelanjutan harus dimulai dari rasa memiliki—bahwa danau ini adalah milik kita, oleh kita, dan untuk masa depan anak cucu kita.
Ohoi Ngadi kini memiliki modal dasar yang kuat. Dengan komitmen menjaga kebersihan dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Kei, Danau Waren siap bertransformasi menjadi destinasi wisata yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyejahterakan masyarakat sekitarnya.
Ke depan, tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Apakah semangat ini akan terus membara? Sebagaimana harapan Wakil Wali Kota Tual, tugas menjaga danau adalah maraton, bukan lari cepat. Dengan dukungan penuh dari seluruh stakeholder, harapan agar Danau Waren menjadi ikon wisata Kota Tual bukanlah mimpi yang mustahil untuk digapai.
Reportase: Aldi Firmansyah/Tim KKN-PPM UGM
Penulis: Leony
Editor: Gusti Grehenson
Foto: Dok. Tim KKN-PPM Unit Tualang Tual



