Menilik Wajah Baru Bahasa Inggris: Refleksi Pragmatik dalam Masyarakat Multilingual Indonesia

Yogyakarta – Bahasa Inggris kini telah menanggalkan statusnya sebagai milik eksklusif negara-negara penutur asli (native speakers). Di era globalisasi yang semakin terkoneksi, bahasa Inggris telah bertransformasi menjadi lingua franca atau bahasa komunikasi global yang digunakan oleh jutaan orang dengan latar…

Yogyakarta – Bahasa Inggris kini telah menanggalkan statusnya sebagai milik eksklusif negara-negara penutur asli (native speakers). Di era globalisasi yang semakin terkoneksi, bahasa Inggris telah bertransformasi menjadi lingua franca atau bahasa komunikasi global yang digunakan oleh jutaan orang dengan latar belakang budaya yang sangat beragam. Fenomena ini membawa pergeseran fundamental dalam cara kita memandang kompetensi berbahasa, di mana kemampuan berkomunikasi tidak lagi sekadar soal tata bahasa, melainkan soal pemahaman konteks sosial dan budaya.

Dalam pidato pengukuhan Guru Besar di Bidang Pragmatik Inggris yang berlangsung di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (7/5), Prof. Dr. Aris Munandar, M.Hum., menegaskan pentingnya mengakui variasi bahasa Inggris yang lahir dari konteks lokal, termasuk di Indonesia. Dengan judul pidato "Kompetensi Pragmatik Bahasa Inggris dalam Konteks Masyarakat Multilingual Indonesia", Prof. Aris menyoroti bagaimana nilai-nilai kesantunan lokal Indonesia mewarnai cara masyarakat kita berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Fakta Utama: Bahasa Inggris yang Pluralistis

Inti dari argumen Prof. Aris adalah pergeseran paradigma dari bahasa Inggris sebagai entitas monolingual menuju entitas yang pluralistis. Bahasa Inggris yang digunakan di Indonesia memiliki "warna" tersendiri. Pengaruh struktur bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah di tanah air tidak bisa diabaikan. Masyarakat Indonesia, ketika berbicara dalam bahasa Inggris, secara tidak sadar membawa nilai-nilai budaya seperti kesantunan, penghormatan terhadap lawan bicara, dan keinginan untuk menjaga harmoni sosial.

Sebagai contoh, cara orang Indonesia menyampaikan keberatan, memberikan saran, atau meminta maaf dalam bahasa Inggris sering kali lebih halus dan tidak langsung (indirect) dibandingkan penutur asli dari negara Barat. Hal ini mencerminkan karakteristik sosiolinguistik masyarakat kita yang kolektivis dan menjunjung tinggi solidaritas interpersonal.

Kronologi dan Konteks Pengukuhan

Acara pengukuhan Guru Besar yang digelar di Balai Senat UGM tersebut menjadi momentum krusial bagi dunia akademis linguistik di Indonesia. Prof. Aris Munandar, yang telah lama berkecimpung dalam studi pragmatik, menyampaikan gagasan ini di hadapan para sivitas akademika. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa selama ini kurikulum pendidikan bahasa Inggris masih terjebak pada standar penutur asli (seperti standar Amerika atau Inggris).

Dikukuhkan jadi Guru Besar UGM, Aris Munandar Soroti Cara Komunikasi Bahasa Inggris Masyarakat RI

Ia menyoroti adanya kesenjangan antara realitas penggunaan bahasa Inggris di lapangan dengan standar yang diajarkan di ruang kelas. Ketika dua orang Indonesia berkomunikasi dengan orang asing dari negara non-penutur asli (misalnya sesama orang Asia), mereka sebenarnya sedang melakukan negosiasi budaya. Sayangnya, kemampuan untuk melakukan negosiasi ini sering kali tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam tes-tes standar internasional.

Data Pendukung: Mengapa Pragmatik Menjadi Kunci?

Pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari bagaimana konteks memberikan kontribusi terhadap makna. Dalam komunikasi internasional, pengetahuan tentang tata bahasa (grammar) dan kosakata (vocabulary) saja tidak cukup. Seseorang perlu memiliki "kompetensi pragmatik" agar tidak terjadi kesalahpahaman budaya (cultural misunderstanding).

Data empiris menunjukkan bahwa komunikasi global saat ini justru didominasi oleh penutur non-penutur asli (Non-Native English Speakers). Dalam situasi tersebut, "kefasihan" yang dianggap benar adalah kemampuan untuk memastikan pesan tersampaikan dengan baik, bukan kemampuan untuk meniru aksen atau pola pikir penutur asli. Masyarakat Indonesia, dengan pengalaman hidup di negara yang memiliki ratusan bahasa daerah, secara alami memiliki kemampuan adaptasi bahasa yang tinggi. Kemampuan untuk hidup dalam lingkungan multilingual ini adalah modal besar yang harus diapresiasi, bukan malah dianggap sebagai "kesalahan" atau "ketidaksempurnaan" dalam berbahasa Inggris.

Tantangan Standarisasi Global

Salah satu hambatan terbesar dalam mengakui variasi bahasa Inggris lokal adalah dominasi tes bahasa Inggris internasional. Banyak instansi pendidikan dan profesional masih menggunakan skor tes yang mengacu pada norma penutur asli sebagai tolok ukur utama.

Menurut Prof. Aris, hal ini menyebabkan variasi bahasa Inggris yang berkembang di negara-negara berkembang—termasuk Indonesia—sering kali dianggap kurang tepat atau "salah". Padahal, bahasa adalah organisme hidup yang terus berevolusi mengikuti kebutuhan penggunanya. Jika kita terus memaksakan standar monolingual yang kaku, kita berisiko kehilangan kekayaan nuansa komunikasi yang justru menjadi kekuatan dalam interaksi global.

Dikukuhkan jadi Guru Besar UGM, Aris Munandar Soroti Cara Komunikasi Bahasa Inggris Masyarakat RI

Tanggapan Pihak Terkait: Menuju Pembelajaran yang Inklusif

Dalam diskursus yang lebih luas, para ahli bahasa dan praktisi pendidikan mulai mempertimbangkan perlunya perombakan kurikulum. Pendekatan yang diusulkan oleh Prof. Aris sejalan dengan tren World Englishes (Bahasa Inggris Dunia), yang mengakui adanya variasi bahasa Inggris di berbagai belahan dunia (seperti Indian English, Singaporean English, hingga Indonesian English).

Pihak akademisi diharapkan mulai membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi strategi komunikasi yang lebih luwes. Ini bukan berarti mengabaikan tata bahasa, melainkan menempatkan tata bahasa sebagai alat, sementara kompetensi pragmatik—seperti kesantunan positif dan kemampuan bernegosiasi makna—sebagai inti dari kecakapan berbahasa.

Implikasi: Mengubah Wajah Pendidikan Bahasa Inggris

Implikasi dari pemikiran Prof. Aris sangat mendalam bagi sistem pendidikan di Indonesia:

  1. Reorientasi Kurikulum: Pendidikan bahasa Inggris harus bergeser dari penekanan pada peniruan aksen atau norma penutur asli menuju pengembangan kesadaran lintas budaya.
  2. Validasi Identitas: Mahasiswa harus didorong untuk bangga dengan identitas budaya mereka saat berbahasa Inggris. Menggunakan bahasa Inggris dengan gaya Indonesia yang santun bukan sebuah kelemahan, melainkan sebuah bentuk komunikasi yang unik dan efektif.
  3. Kesadaran Multilingual: Guru bahasa Inggris harus mampu mengajarkan bahwa bahasa Inggris hanyalah satu dari sekian banyak alat komunikasi, dan kemampuannya untuk berinteraksi dengan bahasa lain (bahasa ibu dan bahasa daerah) adalah aset, bukan beban.
  4. Evaluasi yang Adil: Pengembangan instrumen penilaian yang lebih peka terhadap konteks budaya, di mana keberhasilan komunikasi diukur dari keberhasilan interaksi, bukan dari seberapa dekat seseorang dengan standar penutur asli.

Kesimpulan

Pidato Prof. Aris Munandar memberikan pengingat penting bagi kita semua: bahwa di dunia yang semakin terglobalisasi, kita tidak perlu kehilangan identitas untuk bisa berkomunikasi. Bahasa Inggris di Indonesia adalah cerminan dari masyarakat yang santun, harmonis, dan kaya akan nilai-nilai lokal.

Dengan memahami pragmatik dan konteks lintas budaya, masyarakat Indonesia tidak lagi sekadar menjadi "peniru" bahasa asing, melainkan partisipan aktif dalam dialog global. Sudah saatnya kita membuang mentalitas monolingualisme dan merangkul pluralisme bahasa. Seperti yang ditegaskan oleh Prof. Aris di akhir pidatonya, masyarakat Indonesia harus berani mendefinisikan cara mereka sendiri dalam berbahasa Inggris, karena sejatinya, bahasa adalah alat untuk menghubungkan manusia, bukan untuk membatasi mereka dalam standar yang kaku.

Dikukuhkan jadi Guru Besar UGM, Aris Munandar Soroti Cara Komunikasi Bahasa Inggris Masyarakat RI

Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan orasi ilmiah Prof. Dr. Aris Munandar, M.Hum., dalam pengukuhan Guru Besar di Universitas Gadjah Mada pada 7 Mei 2026. Fokus utama artikel adalah menyoroti pentingnya kompetensi pragmatik dalam era komunikasi global yang semakin beragam.

Penulis: Triya Andriyani
Foto: Donnie

Bagikan artikel ini

XWhatsApp